4 Penyebab Rusaknya Sumber Air Minum di Pegunungan

  • 3 min read
  • Aug 05, 2020
Sumber Air Minum

Air merupakan komponen yang penting untuk kelangsungan hidup manusia. Beragam fungsi dan manfaat yang didapatkan pun sangat beragam. Bahkan organ manusia sendiri mayoritas diisi oleh air sebanyak 60% – 70% tergantung berat badan [1].

Tentu pentingnya air harus diiringi dengan kepedulian sesama dalam melestarikan sumber mata air. Memang mayoritas air yang dikonsumsi oleh masyarakat secara umum datang dari air pegunungan.

Selain karena proses yang aman dan mineral yang baik bagi tubuh, debit air pegunungan memang terlampau tinggi sehingga dapat dimanfaatkan secara menyeluruh untuk kebutuhan manusia [2].

Meskipun demikian, ada beberapa kasus yang harus dihindari guna menghindari kerusakan sumber mata air minum di pegunungan. Kekeringan hingga menurunnya debit air minum memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan masyarakat sekitar.

Maka dari itu penting menjaga kelestarian sumber mata air di pegunungan. Lalu apa saja penyebab kerusakan sumber mata air yang potensial terjadi?

  1. Kerusakan Daerah Aliran Sungai

Penyebab pertama rusaknya sumber mata air adalah kerusakan daerah aliran sungai (DAS) yang merupakan kesatuan wilayah yang menerima resapan hujan, menyimpan dan mengalirkan air melalui kanal sungai sehingga menghasilkan debit air [2].

Fungsi dari DAS sendiri penting untuk menjamin keberlanjutan kondisi hidrologi yang seimbang. Apabila fungsi DAS terganggu maka perubahan faktor bio-geo-fisik lahan akan menjadi sangat krusial.

Untuk menilai kerusakan suatu daerah aliran sungai dapat menggunakan beberapa indikator seperti; rasio debit sungai secara maksimum atau minimum, koefisien limpasan, erosi dan sedimentasi serta debit mata air.

  1. Perubahan Iklim Ekstrim

Penyebab kedua yaitu mengacu pada iklim atau alam. Meski berlangsung secara alamiah tentu hal ini harus diminimalisir agar efeknya tidak panjang dan sumber mata air pegunungan dapat digunakan kembali.

Kenaikan suhu akan meningkatkan penguapan dan memicu peningkatan presipitasi. Baik banjir ataupun kekeringan yang terjadi dapat memberikan dampak tersendiri kepada kelestarian sumber mata air pegunungan [2].

Suhu yang meningkat akan berdampak pada perubahan kualitas air dan kandungannya seperti tumbuhan air yang marak tumbuh (eceng gondok, alga, dan lain-lain). Dari sisi eksternal, perubahan iklim drastis atau ekstrim membuat tingginya permintaan pasokan air untuk fungsi irigasi.

  1. Alih Fungsi Lahan

Penyebab yang ketiga adalah alih fungsi lahan yang tidak terukur dan membahayakan. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk maka perkembangan struktur perekonomian di suatu daerah agar meningkat beriringan.

Tentu hal ini akan membuat kecenderungan alih fungsi lahan tanah yang sulit dihindari. Beberapa kasus yang terjadi untuk alih fungsi lahan pun berkutat pada infrastruktur perumahan yang minim manfaat [2].

Alih fungsi lahan pertanian yang menjadi industri juga memperluas permukaan kedap air sehingga memicu peningkatan aliran permukaan yang berujung pada tingginya potensi banjir.

Permukaan kedap yang bertambah juga menyebabkan penurunan infiltrasi yang mendorong penurunan cadangan air tanah serta membuat lahan semakin turun. Akibat yang dirasakan adalah kurangnya ketersediaan air tanah pada musim kemarau.

  1. Kerusakan Hutan

Kerusakan atau degradasi hutan menjadi penyebab rusaknya sumber mata air pegunungan yang keempat. Indonesia saat ini memiliki 10 persen hutan tropis dunia yang masih tersisa. Luas hutan Indonesia menyusut sebesar 72 persen menurut penelitian World Resource Institute [2].

Alhasil, maraknya penebangan hutan dan penyusutan hutan tropis besar-besaran membuat penyerapan air di tanah dari proses hidrologi alami terganggu.

Penyimpanan dan fungsi hutan tropis sebagai tanah serapan juga menghilang. Kualitas air yang terserap di tanah juga otomatis akan berkurang serta kualitasnya menurun secara berkala [3].

Tentu air pegunungan yang baik harus memiliki beragam kebutuhan penunjang secara alamiah seperti hutan, aliran sungai, tanah yang sehat dan lain sebagianya.

AQUA selalu menerapkan 9 kriteria, 5 syarat dan 1 tahun penelitian sebelum menentukan tempat atau pegunungan sebagai sumber mata air. Para ahli geologi dan geohidrologi pun dikerahkan guna memenuhi syarat layak konsumsi air putih dan pemeliharaan jangka panjang [4].

Meski dikelola AQUA, namun penduduk sekitar juga dapat menikmati kebutuhan air bersih yang cukup. Tak lupa, AQUA juga melindungi ekosistem di sekitar sumber mata air dengan tujuan untuk melindungi kealamian mineral dan keberlangsungan sumber air. Hal ini didasari untuk mempertahankan kelestarian mata air pegunungan, karena AQUA percaya pegunungan merupakan tumpuan utama air minum sehat [5]. Hal ini selaras dengan komunikasi baru AQUA, “Terlindungi Untuk Melindungi”.

Sudah minum AQUA hari ini?

Referensi:

  1. https://www.sehataqua.co.id/berapa-kebutuhan-cairan-tubuh-manusia/
  2. http://www.litbang.pertanian.go.id/buku/membalik-kecenderungan-degrad/BAB-IV-2.pdf
  3. http://www.kjpl.or.id/sumber-mata-air-semakin-susut-akibat-kerusakan-lingkungan/
  4. https://www.sehataqua.co.id/5-cara-aqua-menjaga-kelestarian-sumber-air
  5. https://www.sehataqua.co.id/produk-aqua/