Kenali Gejala Baby Blues Syndrome dan Cara Mengatasinya

  • 2 min read
  • Aug 20, 2020
Baby Blues

Setelah seorang wanita melahirkan, terlebih hal tersebut adalah pengalaman pertama, akan ada perubahan-perubahan tertentu yang terjadi. Salah satunya perihal mood swing atau perubahan mood yang sering terjadi secara tiba-tiba. Bahkan, kondisi ini bisa merupakan manifestasi dari adanya gangguan syndrome bernama baby blues atau disebut juga Postpartum Distress Syndrome.

Pada pengertiannya, sindrom ini merupakan suatu kondisi yang sering dialami wanita di mana ia merasakan  perasaan tidak nyaman seperti sedih dan gundah secara berlebihan. Bahkan, kondisi ini pun bisa semakin memburuk setelah 3 sampai 4 hari setelah ibu melahirkan. Meskipun kebanyakan orang menganggapnya hal biasa karena sebagai bentuk adaptasi, namun hal tersebut tidak boleh dibiarkan.

Gejala Baby Blues

Ketika wanita yang baru melahirkan, pada dasarnya memang rentan terkena sindrom ini. Biasanya, sindrom baby blues akan ditandai dengan beberapa gejala seperti berikut ini:

  1. Ibu sering menangis berlebihan karena sedih dan merasa depresi tanpa sebab yang jelas
  2. Emosinya cenderung lebih labil yang mengakibatkan mudah sekali untuk marah dan meluapkan kemarahannya secara tidak wajar
  3. Sering merasa kelelahan yang berlebihan, bahkan dirinya akan mengalami kesulitan untuk tidur
  4. Ada rasa takut yang tidak berdasar dan tidak dimengerti apa yang membuatnya takut
  5. Rasa emosi dan depresi yang terjadi bisa menyebabkan ibu yang terkena sidrom baby blues sering merasa sakit kepala
  6. Sering muncul rasa cemas meskipun tidak ada yang harus dikhawatirkan dan sering merasa kurang percaya diri atas apapun yang dilakukannya.

Beberapa gejala tersebut seringkali ditemukan pada ibu yang mengalami sindrom distress postparthum. Biasanya, gejala tersebut akan semakin parah dari hari ke hari kalau dibiarkan.

Cara Mengatasi

Pada dasarnya, sindrom ini memang erat kaitannya dengan masalah emosi jiwa seorang wanita setelah melahirkan. Meskipun begitu, sindrom ini tidak bisa disepelekan karena semakin lama bisa memicu emosi berlebih hingga ibu pun bisa melakukan hal nekat dan mengancam nyawa bayi atau sang ibu. Lantas, bagaimana cara mengatasi sindrom baby blues ini? Yuk, simak uraiannya berikut.

  1. Sebelum persiapan, ada baiknya calon ibu maupun calon ayah melakukan segala persiapannya dengan matang. Baik itu persiapan secara materil, fisik hingga mental. Ketika diri merasa sudah siap, maka kecemasan pun akan hilang dengan sendirinya. Bahkan digantikan dengan rasa haru dan bahagian karena sebentar lagi bayi yang diidamkan akan segera lahir.
  2. Menambah pengetahuan dan sering mencari informasi terkait apapun yang berhubungan dengan melahirkan, persalinan atau bahkan informasi bagaimana mengurus bayi. Rasa stress yang muncul, biasanya diakibatkan oleh diri yang merasa tidak tahu apa-apa. Selalu bicarakan dengan suami dan keluarga. Bahkan jika perlu konsultasikan dengan dokter kandungan Anda.
  3. Berbagi pengalaman dengan orang lain pun bisa membantu mengatasi atau mencegah dari baby blues syndrome ini. Pada dasarnya, beban yang disimpan sendirian bisa memperburuk kondisi psikis Anda. Anda bisa mencari komunitas online maupun offline yang bisa menjadi tempat berbagi atau bertanya.
  4. Selalu berpikiran positif dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja pun bisa menjadi cara jitu untuk mengatasi sindrom ini.

Pada dasarnya, sindrom yang menyerang ibu setelah melahirkan ini memang bermula dari ketidaksiapan diri atau kondisi barunya yang mempunyai bayi. Kurangnya perhatian dan dukungan dari suami atau orang terdekat pun bisa menjadi pemicunya. Namun, jika semuanya diatasi dengan pikiran positif dan selalu berkonsultasi apapun bersama oranglain, maka bisa terhindar dari kemungkinan.

Di era digital dan online yang serba canggih kini pun, Anda bisa mengkonsultasikan masalah baby blues langsung dengan ahlinya melalui aplikasi Halodoc. Sekaligus mencari solusi atau permasalahan yang dialami dengan praktis dan lebih mudah. Tidak perlu khawatir, karena konsultasi bisa dilakukan langsung dengan dokter atau ahli medis yang berkompeten di bidangnya.